Kode iklan In feed above/responsive

Ima Matul Maisaroh, TKW Asal Indonesia yang Dulu Disiksa. Kini Jadi Penasihat Obama


Judul : Ima Matul Maisaroh, TKW Asal Indonesia yang Dulu Disiksa. Kini Jadi Penasihat Obama
link : Ima Matul Maisaroh, TKW Asal Indonesia yang Dulu Disiksa. Kini Jadi Penasihat Obama


Ima Matul Maisaroh, TKW Asal Indonesia yang Dulu Disiksa. Kini Jadi Penasihat Obama




Nama Ima Matul Maisaroh jadi bahan pembicaraan netizen Indonesia dan luar negeri beberapa bulan belakangan. Kiprahnya sebagai aktivis anti perdagangan manusia membawanya jadi seorang politikus sekaligus public-speaker yang dikagumi di dunia. Tapi ada kisah pilu dibalik kesuksesannya di Amerika. Ima adalah mantan TKW Indonesia yang jadi korban kekerasan majikannya.

Perempuan lugu asal desa Gedhanglegi, Malang Jawa Timur ini udah mengalami begitu banyak hal didalam hidupnya. Sebagai korban perdagangan manusia, Ima udah kenyang bersama segala penderitaan dan siksaan. Tapi alih-alih menyerah, Ima memutuskan untuk berdiri tegak dan melawan.

Ima remaja merasa mendapat jalur untuk mengejar cita-cita. Tergiur oleh tawaran kerja kepada seorang keturunan Indonesia, dia berangkat ke Amerika

Seperti yang sering berlangsung terhadap perempuan desa, Ima menikah di usia yang terlampau muda. Dia hanya mengenyam pendidikan sampai kelas 1 SMK, dan terpaksa putus sekolah dikarenakan dilamar oleh pria yang usianya 12 tahun lebih tua. Pernikahannya yang tidak puas membuatnya nekat kabur dan mengadu nasib sebagai calon TKW di sebuah PJTKI. Sebelum diperbolehkan berangkat ke Hongkong, Ima diharuskan magang jadi pramusiwi di sebuah keluarga di Malang.

Orang yang memperkerjakannya di Malang menjelaskan bahwa dia miliki sepupu di Amerika yang tengah memerlukan pembantu. Dengan iming-iming bayaran 150$, kira-kira snilai 1,9 juta terhadap era itu, Ima pun tergiur. Membatalkan niatnya untuk ke Hongkong, Ima berangkat ke Amerika bersama sejuta mimpi yang dia punya. Sayangnya, kenyataan tidak seindah yang dibayangkan.

Di usia 17 tahun, Ima berangkat ke Amerika seorang diri. Dia jelas bahwa dia terjerat perdagangan manusia. Kerja 18 jam sehari atau lebih udah biasa


Ima mendarat di Amerika terhadap usia 17 tahun. Sendirian, dan tidak mengenal siapapun. Hal aneh pertama yang berlangsung adalah majikannya langsung menghendaki passport Ima dan menahannya. Ima diharuskan bekerja lebih berasal dari 12 jam per hari, tidak ada hari libur, ada siksaan tiap tiap kali Ima melaksanakan kesalahan-kesalahan kecil. Gaji $150 yang dijanjikan tidak pernah dia dapatkan. Majikannya termasuk mengancam Ima untuk tidak bicara bersama siapapun.


Ima jelas bahwa dia terjerat didalam perdagangan dan perbudakan manusia. Tapi ketakutannya kepada majikan membuatnya tidak terpikir untuk melarikan diri. Apalagi Ima memang tidak mengenal siapapun di sana. Majikannya mengancam, terkecuali Ima berani kabur, polisi akan menangkapnya dan menjebloskannya didalam penjara, di mana dia mampu menerima siksaan yang lebih hebat.

Tiga tahun menjalani siksaan, Ima memutuskan untuk menyelamatkan diri. Dengan perlindungan tetangga sebelah rumah, Ima berkunjung ke CAST
ima 9
Ima memerlukan sementara tiga tahun untuk memupuk keberanian. Karena udah tidak tahan bersama siksaan yang diterima, terhadap tahun 2000, Ima nekat menulis surat permintaan tolong kepada tetangga sebelah. Setelah lewat sementara yang memadai panjang dikarenakan bahasa inggris yang pas-pasan dan kekhawatiran akan ketahuan, kelanjutannya Ima mampu beri tambahan surat kepada tetangganya. Tidak lama, tetangganya sesuaikan aksi melarikan diri Ima dan membawanya ke kantor CAST (Coalisation to Abolish Slavery & Trafficking), sebuah organisasi masyarakat melawan segala bentuk perbudakan dan perdagangan manusia.

Selama di CAST, Ima mendapat berbagai pelayanan. Mulai berasal dari support group, kursus, apalagi disekolahkan. Akhirnya, Ima mampu menjalani kehidupan yang layak
Ima mendapat penghidupan yang layak
Ima mendapat penghidupan yang layak via thepresidentpostindonesia.com

Ima berhasil memperoleh passportnya ulang setelah menemui mantan majikannya bersama didampingi Agen FBI dan CIA. Namun Ima enggan melaporkan tindakan majikannya, dikarenakan sistem yang berbelit-belit dan tidak cukupnya bukti. Sebagai gantinya, di CAST, Ima mendapat banyak dukungan. Mulai support kelompok sampai kursus keahlian. Ima termasuk studi Bahasa Inggris bersama baik dan skill kepemimpinan. Di sinilah Ima mendapat titik terang didalam hidupnya. Ima merasa merasakan kehidupan yang layak dan berani menyusun konsep era depan.

Belajar berasal dari pengalaman hidupnya, Ima mengabdikan diri di CAST untuk menolong Human trafficking. Suaranya lantang menentang perbudakan


Alih-alih pulang ke Indonesia, demi rasa aman, Ima pilih untuk tetap tinggal di Negeri Paman Sam. Karena pengalaman hidupnya yang pilu, Ima memutuskan untuk bekerja di CAST yang udah menolongnya. Ima jadi aktivis yang keras terhadap segala tipe perbudakan dan perdagangan manusia. Ima mengabdikan hidupnya untuk mengulurkan tangan untuk menyelamatkan orang-orang yang mengalami nasib tidak baik yang mirip seperti dirinya.

Karena perjuangannya, Ima diundang jadi keliru satu pembicara terhadap konvensi Partai Demokrat. Sejak Desember 2015, Ima termasuk jadi keliru satu penasihat Obama


Perjuangannya memberantas human trafficking itulah yang mempertemukannya bersama Barrack Obama dan pejabat Amerika lainnya. Berkat dedikasinya yang tinggi didalam hal kemanusiaan, Ima diangkat jadi keliru satu berasal dari 11 anggota berasal dari tim The President’s Interagency Task Force to Monitor plus Combat Trafficking in Persons (PITF).

Apa itu PITF?

Mudahnya, itu adalah tim penasihat Presiden yang bertugas memantai kasus-kasus perdagangan manusia baik di Amerika ataupun di dunia. Fokus berasal dari tim ini adalah memperkuat peraturan hukum, menambah kesadaran manusia, serta beri tambahan perlindungan terhadap korban-korbannya.

Sosok Ima kini jadi pahlawan bersama di Amerika. Kegigihannya untuk berjuang terlepas berasal dari penderitaan menginspirasi banyak orang. Di tanggal 26 Juli lalu, Ima termasuk diundang jadi pembicara terhadap Konvensi Partai Demokrat yang udah menentukan Hillary Clinton sebagai calon presiden yang diusung.



Manusia sering dihadapkan didalam posisi yang sulit dan terjepit. Situasi di mana kita merasa tidak ada jalur keluar, supaya yang mampu kita melaksanakan hanya menerima. Penderitaan dan kesakitan diakui sebagai sesuatu yang ‘sudahlah, menerima saja’. Tapi tentu saja tidak. Karena bila kamu percaya kamu lebih kuat berasal dari dunia, kamu mampu keluar, meski sesempit apa kondisi menjepitmu.

Selain mengenai perjuangan dan bisnis untuk bertahan, ada hal lain yang mampu kita pelajari berasal dari sosok Ima. Yaitu kepedulian. Seperti kata Ima: Human trafficking is not just happening overseas; it is happening right here in our backyard. Sebagai manusia, kita mesti saling peduli, bukan hanya kepada sesama, namun termasuk semua makhluk yang ada di alam semesta. Kalau bukan kita, siapa lagi?